Deskripsi Telaga Ngebel Ponorogo
Telaga ini terletak di Kabupaten Ponorogo, tepatnya di kaki gunung Wilis, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Telaga Ngebel ini juga menjadi salah satu objek wisata yang menjadi ciri khas di Ponorogo. Lokasinya sekitar 30 KM dari pusat kota.
Dulu sebelum terbentuknya telaga ngebel Ponorogo, terdapat kepercayaan bahwa ada sepasang suami istri yang hidup di suatu desa. Sang istri tersebut hamil dan melahirkan, akan tetapi, mereka terkejut karena yang lahir bukanlah bayi manusia biasa melainkan seekor ular yang diberi nama "Baruk Klinting" Melihat kehadiran sosok aneh tersebut, pasangan suami istri tersebut memilih untuk mengasingkan diri di puncak gunung, guna menghindari omongan warga. Pasangam tersebut setiap hari selalu berdoa agar anaknya kelak berubah menjadi wujud manusia. Doa kedua orang tua Baruk Klinting akhirnya di ijabah oleh Tuhan dengan berbagai syarat yang harus di penuhi. Batu klinting diminta bertapa dengan melingkarkan seluruh tubuhnya di gunung selama 300 tahun, panjang tubuhnya kurang, akhirnya ia menjulurkan lidahnya untuk dapat melingkarkan seluruh tubuhnya. ayah memotong lidah ular tersebut dan baruk klinting pun tidak keberatan. Di akhir masa bertapanya, ternyata bertepatan dengan acara pernikahan salah satu orang terpandang di desa tersebut. Pada masa itu masyarakat masih sulit mencukupi perekonomian, akhirnya warga berbondong-bondong pergi ke puncak gunung untuk mencari makan, salah satu warga tidak sengaja menancapkan parang ke akar pohon (ternyata itu bagian tubuh Batu Klinting yang sedang bertapa). Suatu ketika selesailah masa bertapa Baru Klinting dan akhirnya dia sudah menjadi manusia. Ketika itu Batu Klinting dikucilkan oleh warga sekitar karna fisiknya yang tidak sempurna, cara bicaranya yang tidak jelas akibat lidahnya dipotong, hanya ada satu manusia seorang nenek-nenek yang mau membantu Baru Klinting, suatu hari ia mendapat undangan pernikahan dan ia mendatanginya, terdapat tantangan dari salah satu penduduk yaitu mencabut lidi yang ditancapkan di tubuh "Batu Klinting", ternyata tidak ada yang sangup, hanya "Batu Klinting" yang sanggup, akhirnya dicabutlah tancapan lidi tersebut dan keluarlah air yang membanjiri desa. Semua orang tenggelam, kecuali nenek yang menolong baruk klinting, baruk klinting sendiri kembali ke wujud ular dan bertapa di dasar telaga ngebel Ponorogo.
Sejarah tersebut hingga sekarang diperingati satu tahun sekali tepatnya pada 1 Muharom dengan diadakannya acara "Larungan Sesaji Baru Klinting" dalam acara tersebut terdapat kepala kerbau dan beberapa masakan yang ditenggelamkan di tengah telaga.
Di sekeliling telaga terdapat banyak pepohonan yang rindang dan juga hijau. Tak hanya pagi hari saja, tempat ini mempunyai pemandangan yang memanjakan mata, sore hari ketika terbenamnya matahari juga salah satu moment yang sangat dinantikan oleh para wisatawan, tak jarang wisatawan datang hanya untuk sekedar menikmati pesona terbenamnya matahari di sekitar telaga ngebel, pada malam hari danau juga tak kalah memukau dengan hiasan lampu-lampu di sekitarnya. Selain wisata telaga ngebel juga ada speetboat atau perahu motor, bagi wisatawan yang senang menjelajahi danau lebih jelas wisatawan juga diberikan bonus akan diabadikan moment (foto) naik speedboat di dekat tulisan telaga ngebel. Bagi wisatawan yang ingin mengelilingi danau selain ada speetboad juga disediakan perahu dan sepedah air.
Suasana di sekitar telaga ngebel yang cukup menusuk kulit pengunjung apabila tidak mengenakan pakaian yang tebal seperti switter ataupun jaket.
Sekitar telaga ngebel juga terdapat puluhan Warung dengan berbagai jajanan yang tersedia. Jajanan yang menjadi ciri khas dari telaga Ngebel adalah "Nangka Goreng". Ya nangka goreng, buah yang biasa langsung kita makan ini diubah bentuknya menjadi gorengan yang banyak diminati oleh pawa wisatawan.
Selain itu banyak jajanan lain yang tersedia di Warung sekitar telaga Ngebel seperti berbagai varian kopi, varian es, varian gorengan, bakso, mie dll.
Penulis: Nadia Aprillia KP.




Komentar
Posting Komentar