
SOLO- Matahari masih bersinar terik, walau sudah mulai beranja ke barat. Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Jalan di depan kampus II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dipadati oleh mahasiswa. Ada yang mengendarai motor, ada yang berjalan kaki menyusuri trotoar di kanan dan kiri jalan. Mereka berjalan kaki bergerombol bahkan bergandengan, ada yang lima orang, lainnya sampai 8 orang. Terkadang, mereka berjalan sambil ke pinggir saat suara klakson berbunyi. Di Jl. Rajawali depan kampus II UMS tidak terlalu luas. Lebarnya hanya 10 meter. Tetapi jalan itu penuh sepeda motor, mobil, dan mahasiswa yang berjalan kaki. Terkadang suara klakson mobil dan motor berbunyi bergantian. Klakson itu seakan meminta kepada mahasiswa yang berjalan bergerombol untuk meminggir.
Hampir setiap saat jalanan itu padat kendaraan, terutama pukul 07.00, pukul 12.00, maupun 17.00 WIB. Itu tergolong jam sibuk dan jam macet.
“Ah males banget aku nek lewat kene, mesti macet (ah males banget aku kalau lewat sini pasti macet),” ucap Diah, salah satu mahasiswi semester 7 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMS sambil beriringan mengendarai motor bersama saya.
Saya memaklumi keluhan Diah. Diah, dan saya mengendarai motor dari kampus I ke Gonilan, tempat kami indekos. "Yo maklum, kuliahe kan wis mulai tatap muka, okeh maba (mahasiswa baru), yo mesti macetlah (Ya maklum, kuliahnya kan sudah mulai tatap muka, banyak Mahasiswa Baru,ya pasti macet lah)” .
"Tumbas es teh sik yo (beli es teh dulu yuk),” ucap Diah.
Kami langsung mampir di salah satu bakul es teh. Bukan di warung tetapi lapak atau stan di pinggir jalan. Kami memilih Es Teh Sultan, di seberang kampus II UMS. Stannya berupa meja dengan peralatan meracik teh, kantong plastik, sedotan, dan teko berisi air teh. Esnya ada di termos warna hijau. Diah adalah pengemar es teh Solo. Dia tidak mampu menahan dahaganya ketika melihat gambar es teh yang terpampang di stan dekat perempatan Jl. Menco Raya.
Stan es teh itu dijaga pemuda yang mengenakan kas berwarna oranye. Tangan kirinya memegang kantong plastik. Tangan kanan menyeduh teh lalu menuangkannya ke gelas plastik. Teh ini disebut teh sejuta umat karena murah meriah dan disukai banyak orang. Dengan Rp3.000, kita bisa menikmati es teh ukuran jumbo seukuran gelas besar. Es teh itu mampu membuat dinding gelas plastik berembun.
Di stand es teh tersebut kami bertemu dengan Devi, salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Kewargaraan, yang juga penggemar es teh solo. Stan itu bertuliskan “TEH SULTAN INDONESIA” dan “Tehnya Wong Solo”. Rasa dan aroma khas teh Solo memang sudah dikenal oleh berbagai insan, khususnya para mahasiswa yang tinggal di Solo atau mahasiswa yang berdomisili di Solo. Perpaduan teh membuat cita rasa teh yang unik. “Mas, teh Solo ki kok iso khas, campuran teh opo to?,” tanya Diah pada penjual teh. “Memang mbak, teh Solo ini gabungan dari beberapa teh jadi menciptakan rasa yang khas” jawab penjual teh. “ini tehnya campuran dari the dandang, gopek, dan sintren kan mas?” tanya Devi. “Lho mbaknya kok bisa tahu ya, wah bahaya ini ada saingan nanti, hahaha,” jawab penjual teh.
Es teh itu memang menjadi penghilang dahaga di tengah jalan yang ruwet. Jl. Rajawali hingga pertigaan Assalaam adalah jalan paling ruwet se-Gonilan. Perempatan antara Jl. Rajawali dan Jl. Menco Raya juga ramai. Sepeda motor saling memotong. Ada yang berhenti untuk memberi jalan kepada yang lain, ada yang menerobos tanpa peduli.
Hal itu membuat petugas supeltas kewalahan. Dia mengatur pengendara motor dari sisi mana yang harus berhenti, mana yang harus berjalan.
“Mesakne ya pak supeltase,” ujar Diah. Bapak-bapak dengan peluit dan rompi hijau bertuliskan SUPELTAS. Kepanjangannya sukarelawanan pengatur lalu lintas. Mereka tak dibayar untuk mengatur arus lalu lintas. Dia menerima pemberian dari pengguna jalan. Tak ada paksaan.
Dialah pahlawan yang mengurai kemacetan area kampus II, tepatnya di perempatan Jl. Menco Raya. Keringatnya menetes deras, kala sinar matahari menyinari bumi. Namun tidak membuat bapak berkalungkan peluit dan berjaket hijau ini menyerah. Berdiri ditengah jalan, melerai kemacetan dengan mengarahkan tangannya kekanan, kekiri, kebelakang sambil membunyikan peluitnya, “prit-prit pritttt”. Seketika mobil, motor dan kendaraan yang lain berhenti dan kembali berjalan mengikuti aba-aba dari supeltas tersebut. Ketika jalan mulai longgar, supeltas inipun kepinggir jalan untuk menikmati seplastik es teh.
Sedotan berwarna putih menjadi saksi keringnya tenggorokan bapak ini setelah meniup peluit ribuan kali. Seketika seplastik teh yang digengaman SUPELTAS ini hampir habis. Bapak berkulit sawo matang, memiliki perut yang sudah tidak rata lagi alias buncit ini, yang juga memiliki tinggi sekitar 160 cm ini, setelah menikmati seplastik es teh, kembali menata arus kendaraan di perempatan Menco Raya.
Kisah perjuangan SUPELTAS ini semoga menjadi inspirasi bagi kita sebagai pengguna jalan agar bisa menghargai pengguna jalan yang lain. Tetap sabar ketika ada kemacetan dan tetap bersyukur kita mampu menikmati setiap proses dalam kehidupan salah satunya bisa berkuliah dan bisa menikmati es teh tanpa harus melawan teriknya panasnya matahari.
Penulis: Nadia Aprillia Kartikasari Putri (A310190067)
Komentar
Posting Komentar