Boleh Ambyar, Asal Jangan Buyar
Kuwat ora kuwat kudu kuwat, opo wae sing dadi masalahmu, kuwat ora kuwat kowe kudu kuwat. Tapi misale kowe uwis ora kuwat tenan, yo kudu kuwat. Tapi misale kowe uwis ora kuwat tenan, yo kudu kuwat (Kuat nggak kuat harus kuat, apa saja yang menjadi masalahmu, kuat nggak kuat kamu harus kuat, tetapi misal kamu sudah benar-benar tidak kuat, yaa harus kuat).
Salah satu kalimat dari legendaris dangdut Jawa "Didi Kempot," yang memiliki nama asli "Didik Prasetyo" namun biasa dipanggil dengan sebutan Pakdhe karena beliau berasal dari Surakarta Jawa Tengah. Salah satu penyanyi yang ketika konser selalu menggunakan pakaian adat yaitu blangkon. Dengan karakter beliau tersebut tentu juga akan mengenalkan budaya-budaya Jawa bagi khalayak umum yang nota bene tidak berasal dari suku Jawa atau daerah Jawa. Berkat beliau, musik dangdut dikenal sampai keluar negeri. Karya-karyanyapun dinikmati sampai sekarang.
Sejak tahun 1980-an beliau mulai meniti karir dengan genre musik campursari, lika-liki perjalanan telah beliau lewati, awalnya hanya sebagai pemain keroncong jalanan, pada tahun 2000an beliau mulai tenar dan manggung diberbagai acara, hingga pada pertengahan tahun 2019 kemarin karya-karya dan suaranya yang khas menjadi sorotan masyarakat Indonesia bahkan luar negeri. Berbagai konser di kota-kota besarpun digelar, dan akhirnyaa Lagu-Lagu Jawa booming pada tahun tersebut.
"Ning stasiun balapan rasane koyo wong kelangan, kowe ninggal aku, ra kroso netes eluh ning pipiku, Da a... Dada sayang." (Di stasiun Balapan terasa seperti orang yang kehilangan, kamu meninggalkan aku, tidak terasa air mata menetes di pipi)
"Koe janji lungo ra ono sewulan, ra keroso setaun kowe ninggal aku, kangen kangen atiku." (Kamu janji pergi tidak ada satu bulan, tidak terasa sudah satu tahun kamu meninggalkanku, kangen kangen hatiku), "Gek opo salah awakku iki Kowe nganti tego mblenjani janji Opo mergo kahanan uripku iki Mlarat bondo seje karo uripmu." (Salahku apa sampe kamu tega melanggar janji, apa karena hidupku ini miskin, beda dengan hidupmu),
"Umpomo tanganku dadi suwiwi Iki ugo aku mesti enggal bali Ning kepriye maneh mergo kahananku Cah ayu entenono tekaku." (Seumpama tangan ini jd sayap, aku lekas pulang, tapi keadaan mau gimana lagi, tunggu aku sayang, di teras nunggu surat tukang pos).
Beberapa lirik lagu-lagu karya beliau tersebut banyak mengisahkan tentang perjuangan cinta yang kandas atau kisah patah hati hingga beliau mendapat julukan "Godfather of Broken Heart," tak hanya itu, nama penggemar Pakdhe awalnya "kempoters" menjadi "Sobat Ambyar". Sebutan "Sobat Ambyar" sendiri merupakan gabungan kata dari Sad boy dan sad girl.
"Senajan Patah Hati, Sing Penting Dijogeti," teriakan Pakdhe ketika konser, dengan tangan kanan memegang mikrophone, dan tangan kiri diangat sebagai simbol untuk menenangkan para penonton jones atau jomblo ngenes karena cinta, penonton yang mayoritas adalah anak muda.
Berkat Pakdhe berbagai pelantun musik Jawa akhirnya juga ikut naik daun, seperti Denny Caknan dengan karya pertamanya 'Kartonyono', Happy Asmara, Yeni Inka, Aftershine, Lavora, Nela Karisma, dll.
Bahasa Jawa yang awalnya tidak dikenal oleh masyarakat luas, dengan hasil jerih payah Pakdhe menjadi suatu karya yang bisa dinikmati dan digandrungi oleh masyarakat nusantara bahkan luar negara. Dengan begitu Bahasa Jawa lebih dikenal masyarakat luas.
Pada suatu malam, sekitar pukul 20.00 WIB, terdapat perkumpulan wanita-wanita disalahsatu kos area Pabelan. "muter musik dong biar nggak sepi" ucap Afifah. "pakai Youtube kamu aja ya, nk pakai Youtube Aku nanti kalian pada nggak ngerti sama lagunya", jawab Diah sambil membagikan kartu Uno dalam lingkaran obrolan kami. "Halah, terserah yang penting ada suara," Jawab Afifah. "yaudah-yaudah iya," Jawab Diah. Seketika diah membuka Youtube dan memutar playlistnya.
"Udan grimis telesono klambi iki, jroning dodo ben ra garing ngekep janji, ora lamis gedene gonku nresnani, nganti kapan aku ra biso lali." (Hujan gerimis membasahi baju ini, di dalam dada supaya kering memeluk janji, bibir tidak sebesar aku mencintaimu, sampai kapan aku tidak bisa lupa).
"Ademe gunung merapi purba (Dinginnya)," Sahutan nyayian dari teman-teman. "Lho kalian tahu juga ternyata," candaan Diah sambil tertawa terbahak-bahak dan ikut bernyanyi bersama. "Wenak bianget lagune Didi Kempot, iso pas karo howone seng adem, (enak banget lagunya Didi Kempot, pas sama hawa dinginnya wkwkw) " ungkap Tri, "wess Sobat Ambyar kabeh kih, (Dahh jadi sobat ambyar semua nih)," sambung April.
Sayangnya pada tahun pertengahan 2020 kemarin Didi Kempot meninggal Dunia karena sakit Silent Killer. Ribuan penggemar merasa terpukul atas berita duka tersebut. Namun karya-karya beliau masih sering dibawakan oleh musisi-musisi lagu dangdut Jawa sebagai persembahan dan mengenang sosok Didi Kempot.
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar